Posted by: steemeister on: December 16, 2009
Mulai dari jaman kita baru dilahirkan, sampe jaman kita bisa guling-guling, dari jaman obor ampe lampu sorot, dari jaman Robocop ampe jaman Transformer, banyak hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Gunung meletus, banjir bahkan yang terdekat dengan hidung kita yaitu kentut. Eh lebih deketan upil sih. Hadoh bukan itu bukan! Maksud saya hal-hal yang terjadi di sekitar kita seperti… eh opo yo? Oh ya!! Seperti teman kita (baca: saya) yang suka tidur dimanapun dan kapanpun. Dari hal-hal demikian, apa yang pertama kali terlintas di otak kita waktu kita melihat peristiwa itu terjadi? Kebanyakan orang akan merespon: “Dimana tuh” ato “Kapan tuh” ato “Halah pancet ae (halah tetep aja)”. Apa yang kita jawaban yang kita dapatkan? “Di Jogja” ato “Tadi malam” ato “Yowes biasa (udah biasa)”. Hanya jawaban singkat itu aja yang kita terima.
Dari beberapa kejadian diatas, mari kita coba ubah pola hidup kita menjadi lebih sehat lima sempurna. Eh salah, kita coba pola pikir otak kita dengan berpikir “Kenapa? Trus gimana?” Kita ambil dari contoh teman kita (skali lagi, baca: saya) yang suka tidur dimanapun kapanpun.
P: Kenapa kok anak itu bisa tidur dimana aja kapan aja ya?
J: Karena anak itu cape
Akan muncul lagi pertanyaan:
P: Kecapean ngapain aja?
J: Kerja keras, banting tulang, jatuh bangun
Akan muncul pertanyaan lagi:
P: Gimana ya caranya biar meskipun kita kerja keras, banting tulang, jatuh bangun tapi kita tetap bisa nglakuin hal-hal laen yang juga bermanfaat?
Oke, STOP. Dari contoh diatas, apa yang kita dapat? Haiiiiyooo apa? Yah!! SUPER SEKALI! Sebuah rangsangan pikiran yang membuat kita untuk terpacu memecahkan suatu masalah. Masalah disini adalah tidur dimanapun dan kapanpun. Kita menanyakan “Kenapa?” maka kita mencari sumber masalah tersebut yang disini adalah kecapean karena kerja seharian. Jadi jika dijabarkan masalahnya menjadi “Setelah kerja keras seharian kita terlalu cape lalu tidur”. Berarti kegiatan kita setelah kerja keras seharian itu kita tidur. Lalu bagaimana dengan kegiatan kita yang lain? Nonton berita, misalnya. Ato bersih-bersih kamar, misalnya. Lalu kita kembali bertanya, “Trus gimana?” maka kita jadi akan terangsang untuk mencari suatu pemecahan dari masalah tadi, agar kita tetap bisa melakukan kegiatan-kegiatan lain setelah kita kerja seharian.
Para penemu menemukan hasil temuannya karena mereka bertanya “Kenapa? Trus Gimana?” pada diri mereka sendiri. Mereka tidak langsung serta merta menanyakan “Apa?” karena mereka tidak akan tahu sebelum mereka mencari sumber masalah lalu pemecahannya. Semua masalah akan terpecahkan jika kita menggali lebih dalam sebab-sebab masalah itu. Jika kita hanya melihat masalah itu sebagai suatu objek, kita tidak akan dapat memecahkan suatu masalah.
Hal ini dapat kita terapkan pada masalah dalam bentuk dan rupa apapun (kek jin sob). Dalam urusan rumah tangga misalnya, seorang istri marah-marah ga jelas sampai ngrubuhin rumah. Suami hanya melihatnya sebagai “Istri yang sedang marah” maka sang suami pun akan ikutan marah-marah. Selesai masalah? Mungkin kalo keduanya isded, koit, wafat gara-gara saling tikam selesai masalah. Untuk menyelesaikan masalah seperti ini semestinya sang suami mencoba mencari penyebab kemarahan frontal (Perang donk!) istrinya. Lalu jika sudah ketemu inti masalahnya, cari cara yang baik untuk meredam kemarahan itu. Sang suami saja? Tidak. Sang istri semestinya juga mencari tahu kenapa hal yang membuatnya marah itu terjadi, lalu mencoba mengkomunikasikannya dengan sang suami. Semua ini akan membantu agar tidak terjadi lagi hal serupa di masa yang akan datang.
OK! That’s all folks. Kalo ngerti bagus, kalo ga ngerti mati ajah lu! Gw dah cape-cape nulis neh malem-malem x(
~steemeister~
~blackisgood~
~my wings, my will, my wish~